KLIK SALAH SATU iklan DIBAWAH INI DULU ^_^

br/>

Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Niat Dan Cara Shalat Idul Fitri

Niat Dan Cara Shalat Idul Fitri - Pada kesempatan kali ini blog bungas akan share Niat dan Cara Shalat Idul Fitri. Tapi sebelumnya anda bisa baca Tanda Tanda Datangnya Malam Lailatul Qadar

tata cara shalat hari raya idul fitri

Bacaan Niat Shalat Idul Fitri
“Ushalli sunnatal li'iidil fitri rak'ataini (imamam/makmumam) lillahita'aalaa”

Arti Niat Shalat Idul Fitri

“Aku niat shalat idul fitri dua rakaat (imam/makmum) karena Allah Ta'ala.”

Tata Cara Shalat Idul Fitri

1. yang jelas Shalat Idul Fitri dua rakaat tidak boleh lebih. kecuali sunat sunat yang lain sperti tarwih dan lain sebegainya.
Umar bin Khaththab mengatakan, “Shalat Jumat dua rakaat, shalat Idul Fitri dua rakaat, shalat Idul Adha dua rakaat ….” (H.r. Ahmad dan An-Nasa’i; dinilai sahih oleh Al-Albani)
2. Shalat Idul Fitri dilaksanakan sebelum khotbah Idul Fitri
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma; beliau mengatakan, “Saya mengikuti shalat id bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum. Mereka semua melaksanakan shalat sebelum khotbah.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)
3. Melakasanakan Takbir ketika shalat Idul Fitri
Takbiratul ihram di rakaat pertama lalu membaca doa iftitah, kemudian bertakbir tujuh kali. Di rakaat kedua, setelah takbir intiqal, berdiri dari sujud, kemudian bertakbir lima kali.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika Idul Fitri dan Idul Adha; di rakaat pertama sebanyak tujuh kali takbir dan di rakaat kedua sebanyak lima kali takbir selain takbir rukuk di masing-masing rakaat.” (H.r. Abu Daud dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Takbir ketika shalat Idul Fitri: tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua, dan ada bacaan di masing-masing rakaat.” (H.r. Abu Daud dan At-Turmudzi; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Al-Baghawi mengatakan, “Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat maupun orang-orang setelahnya. Mereka bertakbir ketika shalat id: di rakaat pertama tujuh kali –selain takbiratul ihram– dan di rakaat kedua lima kali –selain takbir bangkit dari sujud–. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu bakar, Umar, Ali … radhiallahu ‘anhum ….” (Syarhus Sunnah, 4:309; dinukil dari Ahkamul Idain, karya Syekh Ali Al-Halabi)
4. Mengangkat tangan ketika takbir tambahan
Syekh Ali bin Hasan Al-Halabi mengatakan, “Tidak terdapat riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengangkat kedua tangan setiap takbir shalat id.” (Ahkamul Idain, hlm. 20)
Akan tetapi, terdapat riwayat dari Ibnu Umar bahwa beliau mengangkat kedua tangan setiap takbir tambahan shalat id. (Zadul Ma’ad, 1:425)
Al-Faryabi menyebutkan riwayat dari Al-Walid bin Muslim, bahwa beliau bertanya kepada Imam Malik tentang mengangkat tangan ketika takbir-takbir tambahan. Imam Malik menjawab, “Ya, angkatlah kedua tanganmu setiap takbir tambahan ….” (Riwayat Al-Faryabi; sanadnya dinilai sahih oleh Al-Albani)
Keterangan:
Takbir tambahan: Takbir sebanyak 7 kali pada rakaat pertama, dan sebanyak 5 kali pada rakaat kedua.

5. Zikir di sela-sela takbir tambahan
Syekh Ali bin Hasan Al-Halabi mengatakan, “Tidak terdapat riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang zikir tertentu di sela-sela takbir tambahan.” (Ahkamul Idain, hlm. 21)

Meski demikian, terdapat riwayat yang sahih dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu; beliau menjelaskan tentang shalat id, “Di setiap sela-sela takbir tambahan dianjurkan membaca tahmid dan memuji Allah.” (H.r. Al-Baihaqi; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Ibnul Qayyim mengatakan, “Disebutkan dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau menjelaskan, ‘(Di setiap sela-sela takbir, dianjurkan) membaca hamdalah, memuji Allah, dan bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’” (Zadul Ma’ad, 1:425)
6. Bacaan ketika shalat Idul Fitri
Setelah selesai bertakbir tambahan, membaca ta’awudz(Basmalla), membaca Al-Fatihah, kemudian membaca surat dengan kombinasi berikut:

Surat Qaf di rakaat pertama dan surat Al-Qamar di rakaat kedua.
Surat Al-A’la di rakaat pertama dan surat Al-Ghasyiyah di rakaat kedua.
Semua kombinasi tersebut terdapat dalam riwayat Muslim, An-Nasa’i, dan At-Turmudzi.

Nama Untuk Bayi Perempuan Yang Islami

Nama Untuk Bayi Perempuan Yang Islami - Ibarat pepatah orang yang berpendidikan, nama adalah do'a. Jadi, jika anda memberikan nama yang baik untuk putri anda, anda juga mendoakannya sesuai dengan nama yang anda berikan. Terkadang para orangtua hanya memberikan nama kepada anaknya tanpa tahu apa arti nama tersebut. Nah, kali ini Bungas akan memberikan beberapa koleksi nama yang memeliki arti yang baik. 

Nah, bila Anda memiliki Bayi Perempuan, di sini ada beberapa Nama Bayi Perempuan Islami yang mungkin bisa Anda jadikan contoh. Nama-nama bayi perempuan ini juga di sertai dengan arti namanya. Berikut selengkapnya

Nama Bayi

Adibah Aida

Alani Fatini

Ahlam Fakhira

Alya Adriana

Alya Jazilah

Aliyah Afifah

Aisyah Aqilah

Aisyah Afiqah

Azyan Alilah

Anis Zarifah

Aisyah Mariah

Afifah

Ajda

Ahlam

Adawiyah

Aflah

Afifah

Ajda

Ahlam

Adawiyah

Aflah

Ardini

Bisyri

Bahi Wafiah

Bilah Izah

Basyarah

Badrina

Damia Lutfiah

Dayana Batrisya

Dalili Fahimah

Dhia Syarafana

Diyanah

Dalili

Dahimah

Dahiyah

Dafinah

Dayana

Danesh

Fathiah

Fathinah Uzma

Fatin Sahira

Faiqah Faqihah

Fakhirah Shakila

Fazila

Fariha

Faiqa

Ghina Hijanah

Ghaliyati

Ghundurah

Hana Humaira

Hana Khalilah

Hani Mastura

Huda Khalidah

Hani Khalilah

Hulwah

Haibah

Hannah

Hanan

Hayati

Haziqah

Haffafa

Hakeema

Husna

Iffah Huriyyah

Irdina Ilmuna

Izzah Insyirah

Izz Zayani

Iffah

Irtiyah

Is’ad

Irbah

Imtinan

Inshiraah

Is’aaff

In’aan

Inayah

Ismah

Iffah

Jauza Kamilia

Julia Malihah

Jamilah

Juni Damia

Juni

Kautsar Kamilah

Khairul Syifa

Laila Madihah

Laila Mardhiah

Lina Nadhirah

Liya Zafirah

Laila Nahwah

Lubna

Maznah Muktazzah

Mirrah Almas

Miza Karmila

Marsya Maisarah

Muna Mukhlisah

Munawwarah

Muzfirah

Mawaddah

Musyirah

Najwa Asyilah

Naqibah

Nawal Atiyah

Nawal Najah

Nur Amalina

Nafisah Nazih

Nuriy Nazihah

Nawar Zakiyah

Nisrina Nabihah

Nabighah

Najibah

Nazili

Nafisah

Naflah

Nadhifah

Nida’

Naqiyyah

Nafilah

Puteri Balqis

Qudwati Qayyimah

Raihanah

Rohadatul Aisy

Ridwana Rifiah

Ruzana Ridwana

Raqwan Raniah

Rumman

Razanah

Razanah

Safura Nazihah

Siti Saffanah

Sima Sahirah

Sofiah Solehah

Syamimi Syamilah

Saffanah

Samihah

Salma

Samiyah

Syadiyah

Syaimah

Syaza

Syazana

Syaurah

Shahirah

Shahidah

Saafia

Shuhrah

Sabhah

Tasnim Amani

Tihani

Tijan Tahsina

Thifal

Tifal

Uzma

Ulya

Wafa Thahirah

Wani Hazirah

Watin Wardah

Widad Kamilah

Wafiy Munirah

Wafiah

Waznah

Wafa

Wafiyya

Wasima

Yasmin Syamini

Yusriah

Yusra

Zuhrah Musfirah

Zahrah Zuyyin

Zuyyin

Zukhruf

Zahirah
Arti

Berpengetahuan/keberuntungan

Ketinggian/bijaksana

Paling sempurna/termashyur

Ketinggian, nisbah

Ketinggian/bijak bercakap

Wanita yang tinggi/yang sopan

Hidup bahagia/ Cerdas, pandai

Hidup bahagia/ Cerdas, sangat berpengetahuan

Perhiasan / Yang memakai wangian

Comel/indah

Kehidupan/yang indah

Wanita yang suci/sopan

Bermanfaat

Paling sempurna

Ubat penawar

Beruntung

Wanita yang suci/sopan

Bermanfaat

Paling sempurna

Ubat penawar

Beruntung

Isteri yang disayangi

Manis muka

Indah/yang sempurna

Wangi dan mulia

Indah

Bulan kami

Kebijakan, kelembutan

Gagah perkasa/cerdik/pintar

Pemimpin/yang bijak

Cahaya/kemuliaan

Agama

Pemimpin

Kuat, tangkas

Pintar

Kekayaan tersembunyi

Yang gagah perkasa

Kebijaksanaan, terpelajar

Kemenangan

Bijaksana/terbaik

Menarik/mempesonakan/memikat hati

Paling baik/pintar

Kebanggaan/cantik

Ulung, jujur, cemerlang

Bahagia, kesenangan

Ulung, masyhur, terkenal, unggul

Kekayaan/keturunan yang mulia

Yang mahal

Bahagia, muda

Rezeki tanpa kepayahan/yang berpipi merah

Rezeki tanpa kepayahan/kesayangan

Tenang/yang terpelihara

Petunjuk yang benar/yang abadi

Yang mengucapkan selamat/kesayangan

Manis

Wibawa

Kasih sayang

Bertimbang rasa

Kehidupanku

Yang cerdik, pandai

Kegemilangan, kilauan, damai, angin lembut

Bijak, bijaksana

Lebih baik, keramahan

Suci terpelihara/bidadari

Kehormatan kami/pengetahuan kami

Kemuliaan/kegembiraan, lapang hati

Kekuatan/yang cantik

Tahu harga diri

Kesenangan

Yang membahagiakan

Fikiran tajam

Anugerah tuhan

Gembira, kesenangan, kebahagiaan, keceriaan

Pertolongan

Pemberian kenikmatan

Perlindungan

Terhindar dari dosa

Tahu harga diri

Nama bintang/pokok yang menghijau

Berambut panjang/cantik

Cantik

Kemerah-merahan / kebijakan, keberkatan

Kemerah-merahan

Nikmat yang banyak/yang sempurna

Kebaikan/penawar

Kekasih, yang terpuji

Kekasih/yang disayangi

Kelembutan/yang berseri

Yang beroleh kemenangan

Keseronokan, kekasih / berakal

Pohon damar yang menghasilkan cecair wangi

Kepujian/mulia

Akal yang cerdas/intan

Berseri-seri/manis

Subur/kesenangan

Keinginan/yang ikhlas

Tenang, bercahaya

Yang menang

Cinta kasih

Yang menasihati

Bisikan rahsia/nama yang baik

Ketua/fikiran yang tajam

Memperolehi sesuatu/pemberian

Hadiah/kejayaan

Cahaya harapan

Yang mulia/tidak membuat yang keji

Yang berseri-seri/ yang jujur

Bunga/ yang suci/ yang baik

Bunga mawar putih/ cerdik, mulia

Yang masyhur, kenamaan, yang bijak

Dermawan

Pakaian dan makanan yang berkat

Yang berharga

Bunga matahari

Bersih

Seruan

Jernih

Ibadah tambahan

Ratu kerajaan Saba’

Contoh/pemimpin

Sejambak bunga yang harum

Kemakmuran hidup

Keriangan/ketinggian kemuliaan

Ketenangan/keriangan

Kemajuan/mempesona

Buah delima

Baik tingkah laku/tetap pendirian

Yang terhormat dan disegani

Keemasan/jujur

Permata

Lambang keindahan/memikat hati

Jernih/baik

Yang berbau harum, lengkap

Mutiara

Yang murah hati/dermawan

Yang damai

Kedudukan tinggi

Beradab/berilmu

Peneliti

Keharuman

Kecergasan

Cantik

Yang masyhur

Yang berjasa

Murni, bersih, jernih

Kemasyhuran

Cantik, lawa

Air terjun dalam syurga/ketenanganku

Bahagia

Mahkota/mencantikkan

Lembut dan halus

Lembut dan halus

Lebih mulia, lebih terhormat

Lebih tinggi, paling tinggi

Kesetiaan/yang suci

Mutiara/pilihan yang terbaik

Yang sempurna/sekuntum bunga mawar

Kasih sayang/yang sempurna

Setia/yang cantik

Sempurna

Batu penimbang

Kesetiaan, ketaatan, kepercayaan

Benar, dipercayai, sempurna, lengkap

Cantik, anggun, elok

Keharuman yang tinggi/bunga melur

Mudah

Urusan yang mudah

Keindahan/yang berseri

Bunga/Dijadikan indah

Dijadikan indah

Keindahan sesuatu

Berkilau

Doa Yang Mustajab Sepanjang Masa

doa mustajab 120x120 Doa Mustajab Sepanjang Masa  
Doa Mustajab Sepanjang Masa – Dalam menghadapi dunia globalisasi dan era modern seperti sekarang ini generasi muda Islam perlu untuk membekali diri mereka dengan ajaran agama yang mapan dan pergaulan yang baik. Persiapan bekal ilmu agama dan mental-spiritual yang berkelanjutan hal yang semestinya terus dilakukan agar tidak tergelincir dalam perbuatan dosa-dosa besar, kebutaan hati, pergaulan bebas, kejahatan fisik dan non fisik.  Kepedulian beragama dan tujuan akhir yang terarah dan baik perlu dibangun dalam hati generasi muda. Pendidikan, pengajaran dan praktek agama yang mengisi hari-hari mereka dirasa sangat penting. Untuk itu ajaran-ajaran Islam telah mempersiapkan berbagai perangkat, di antaranya adalah pendidikan dan praktek agama sejak lahir, masa kanak-kanak, remaja, dewasa hingga berkeluarga. Untuk itu kami ikut menyumbang sarana pendidikan tersebut walaupun sedikit dan tidak berarti apa-apa. Dibawah ini ada beberapa doa mustajab yang diambil dari ayat-ayat al-Qur’an, Hadis Rasul maupun dari para ulama. Kami tulis dengan bahasa aslinya yaitu Arab dan juga artinya dengan tujuan agar para pembaca mengerti isi dari doa mustajab tersebut. Bagi pembaca yang belum bisa membaca huruf Arab bisa saja berdoa dengan  membaca arti doa tersebut. Harapan kami kelak kemudian hari tergerak hatinya untuk bisa membaca ayat-ayat al-Qur’an, hadis Rasulullah SAW dan doa-doa lainnya dengan bahasa aslinya yaitu bahasa Arab. Doa mustajab  ini kami urutkan semenjak seseorang masih bujang, mencari jodoh, menikah, malam pertama, hamil sehingga mempunyai keturunan. Semoga bermanfaat.

Doa Mustajab Yang Diurutkan

1. Doa sebelum menikah semoga mendapatkan jodoh yang baik : Q.S.26 (Asy-Syuara) ayat 83 :  habli hukman Doa Mustajab Sepanjang Masa
(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah (agar aku menjadi orang yang bijaksana) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang shaleh”.
2. Doa saat menikah Q.S.17 (Al Isra’) ayat 80 :
sifaan la Doa Mustajab Sepanjang Masa “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah (pula) aku dengan cara keluar yang baik dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”.
3. Doa sesudah menikah semoga semua urusan lancar Q.S.18 (Al Kahfi) ayat 10 :
miladungka Doa Mustajab Sepanjang Masa
”Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”
4. Doa mustajab  akan bersenggama :
bismilla Doa Mustajab Sepanjang Masa ” Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Ya Allah Ya Tuhan kami, jauhkanlah kami dari syaithon dan jauhkanlah syaithon dari (anak) yang Engkau karuniakan/berikan kepada kami”.
5. Doa mustajabmohon dijadikan janin yang ada dalam kandungan lahir nanti laki-laki/perempuan :
  • Doa mustajab ingin punya anak perempuan :
-  Dibaca oleh istri :
nama perempuan Doa Mustajab Sepanjang Masa
 ”Ya Allah, sesungguhnya aku akan memberikan nama anak yang masih ada dalam kandunganku dengan nama ( ………….   sebutkan calon nama anak perempuan yang akan diberikan nantinya ),  maka jadikanlah dia anak perempuan yang shalihah”.
- Dibaca oleh suami :
nama laki Doa Mustajab Sepanjang Masa
“Ya Allah, sesungguhnya aku akan memberikan nama anak yang masih ada dalam kandungan istriku dengan nama (…………… sebutkan calon nama anak perempuan yang akan diberikan nantinya )   maka jadikanlah dia anak perempuan yang shalihah”.
  • Do’a ingin punya anak lak-laki :
- Dibaca oleh istri :
bihaqi nabi Doa Mustajab Sepanjang Masa “Ya Allah, sesungguhnya aku akan memberikan nama anak yang masih ada dalam kandunganku dengan nama ……………… ( sebutkan calon nama anak laki-laki yang akan diberikan nantinya ) maka jadikanlah janin ini anak laki-laki yang shalih dengan  haknya Nabi yang mempunyai nama yang mulia, yaitu junjungan kami Nabi Muhammad SAW”.
- Dibaca oleh suami :
bihaqi nabi 2 Doa Mustajab Sepanjang Masa
“Ya Allah, sesungguhnya aku akan memberikan nama anak yang masih ada dalam kandungan istriku dengan nama ………… ( sebutkan calon nama anak laki-laki yang akan diberikan nantinya )  maka jadikanlah janin tersebut anak laki-laki yang shalih dengan  haknya Nabi yang mempunyai nama yang mulia, yaitu junjungan kami Nabi Muhammad SAW”.
6. Doa mohon diberikan keselamatan (dibaca oleh ibu yang sedang hamil) :
doa ibu hamil Doa Mustajab Sepanjang Masa
“ Ya Allah jagalah anaku selama ada dalam kandunganku, sembuhkanlah dia (apabila ada penyakitnya), Engkau adalah Dzat yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang datang dari-Mu, kesembuhan yang tidak akan membawa penyakit. Ya Allah jadikanlah anak-anak yang ada dalam kandunganku dengan bentuk yang bagus (tampan/cantik) dan tetapkanlah di dalam hatinya untuk senantiasa beriman kepadaMu dan RasulMu. Ya Allah keluarkanlah anakku dari kandunganku pada waktu aku melahirkan dengan mudah dan selamat. Ya Allah jadikanlah anakku, anak yang sehat, sempurna, berakal, cerdas, baik pengetahuan agamanya dan senantiasa mengamalkan ilmunya. Ya Allah berilah anakku umur yang panjang, badan yang sehat, akhlak (budi pekerti) yang luhur, lisan yang fasih serta suara yang bagus untuk membaca Al Qur’an dan Hadits berkat kebaikan Nabi Muhammad SAW. Segala puji hanyalah untuk Allah yang menguasai seluruh alam”.
7. Doa untuk ibu hamil (dibaca oleh ibu hamil)
- Q.S.3 (Ali Imran) ayat 35 :
robbi inni nadartu Doa Mustajab Sepanjang Masa
”Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku bernadzar kepada Engkau anak yang ada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (kepada Mu). karena itu terimalah (doaku) ini . Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
- Q.S.16 (An Nahl) ayat 78 :
wallohu akhrojakum Doa Mustajab Sepanjang Masa “dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.
8. Doa untuk ibu hamil dibaca oleh suami-istri,
Q.S.2 (Al Baqarah) ayat 286 :
akhir baqoroh Doa Mustajab Sepanjang Masa ”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau salah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan  kepada kami beban yang kami tidak sanggup untuk memikulnya. Berilah kami maaf, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka berilah kami pertolongan (untuk menang didalam menghadapi) orang-orang kafir.”
Q.S.25 (Al Furqan) ayat 74 :
robana hablana Doa Mustajab Sepanjang Masa ”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan Jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa
  Q.S.3 (Ali Imran) ayat 173 :
hasbuna Doa Mustajab Sepanjang Masa
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”.
- Q.S.8 (Al Anfal) ayat 40 :
nimalmaula1 Doa Mustajab Sepanjang Masa
“Dia adalah Sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong”
walahaula Doa Mustajab Sepanjang Masa
“Tidak ada daya upaya dan kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia”
9. Doa mustajabibu yang sedang menyusui Q.S.26 (Asyu’ara) ayat 78 – 80 :
aladihola Doa Mustajab Sepanjang Masa 78. “(Dia-lah Allah SWT) yang telah menciptakan aku, Maka Dialah yang menunjuki aku
waida maridtu Doa Mustajab Sepanjang Masa
79. “dan Dia-lah Tuhan yang memberiku makan dan minum”
waladi yuti Doa Mustajab Sepanjang Masa 80. “dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
10. Doa mustajabuntuk ibu nifas :
Dalam keadaan nifas seorang ibu masih diperbolehkan membaca sholawat, istighfar, tasbih, tahmid dan tahlil.
Do’a untuk ibu nifas ketika istinja’ (cebok) :
alohuma tohir Doa Mustajab Sepanjang Masa “Ya Allah bersihkan hatiku dari kemunafikan, dan lindungilah kehormatan (kemaluan) ku dari kejahatan (penyakit)”. Selanjutnya,…… 11. Doa mustajabuntuk bayi yang baru lahir sesudah di adzankan:
uiduha Doa Mustajab Sepanjang Masa
“Ya Allah Yang Maha Esa, tempat semua orang meminta, aku mohon perlindungan-MU untuk anakku dari segala kejahatan orang yang hasad/dengki”.
alohuma ini uiduka1 Doa Mustajab Sepanjang Masa
“Ya Allah dengan segala kesempurnaan kalimat-MU, aku mohon perlindungan untuk anakku dengan kalimah-kalimah Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, dari gangguan semua binatang, dan dari gangguan pandangan mata yang dapat membawa akibat buruk kepada apa yang dilihatnya”.

[ sumber ]

Niat Puasa Bulan Rajab Dan Keutamaan Bulan Rajab

Niat Puasa Bulan Rajab Dan Keutamaan Bulan Rajab - Rajab merupakan bulan ketujuh dalam hitungan kalender islam. sama seperti Muharram, Rajab juga termasuk bulan-bulan mulia. Allah meng-isra' Mi'rajkan Rasulullah SAW pada bulan Rajab . Perintah sholat juga di wajibkan pada bulan ini. Rasulullah SAW bersabda :
" Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku "
Bulan Rajab merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah. Pada bulan ini, sepatutnya energi kita difokuskan untuk menunjukkan cinta kita kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Lalu bagaimana cara menunjukkan cinta kita itu ?
Salah cara menunjukkan cinta kita kepada Allah dan Rasulullah SAW pada bulan Rajab adalah dengan melakukan puasa sunnah. Rasulullah SAW mengatakan bahwa bagi yang menjalankan puasa pada bulan Rajab, ia akan mendapatkan manisnya hidangan surga. Sebagaimana bunyi sebuah hadist : " Sesungguhnya di surga ada suatu sungai bernama " Rajab", warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa yang berpuasa satu hari dalam bulan Rajab, maka akan di beri minum oleh Allah dari sungai itu." (HR. Bukhari Muslim).
Oleh karena itu, bagi kita yang merindukan hidangan lezat surga, tidak ada alasan lagi untuk meninggalkan puasa sunnah pada bulan Rajab.

 Adapun Niat Puasa Rajab adalah :
نويت صوم شهر رجب سنة لله تعالى
" saya niat puasa bulan Rajab, sunnah karena Allah ta'ala"
Berikut penjelasan para ulama tentang pengkhususan ritual ibadah tertentu pada bulan Rajab. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’

Ada sebuah pertanyaan yang diajukan:
Di sana ada hari-hari tertentu (khusus) di bulan Rajab yang ditunaikan padanya puasa sunnah, apakah hari-hari tersebut jatuh pada awal bulan, pertengahan, ataukah di akhirnya?
Jawab:
Tidak ada hadits-hadits khusus yang tetap (shahih) tentang keutamaan puasa pada bulan Rajab selain hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i dan Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari shahabat Usamah, bahwa dia berkata:
“Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan tertentu sebagaimana puasa engkau pada bulan Sya’ban.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ذلك شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم
“Itu adalah bulan yang orang-orang lalai darinya, bulan yang terletak antara Rajab dan Ramadhan, dan itu adalah bulan yang mana seluruh amalan diangkat ke hadapan Rabbul ‘Alamin, maka aku senang jika amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” [HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya’la, Ibnu Zanjuyah, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Barudi, Sa’id bin Manshur]
Hadits-hadits yang ada menunjukkan keumuman tentang dorongan untuk berpuasa tiga hari di setiap bulan, dan dorongan untuk berpuasa pada hari-hariBidh di setiap bulan, yaitu tanggal 13, 14, dan 15, dorongan untuk berpuasa pada bulan-bulan haram, puasa pada hari Senin dan Kamis. Dan bulan Rajab masuk ke dalam keumuman dari itu semua.
Jika engkau bersemangat untuk memilih hari-hari tertentu pada setiap bulannya, maka pilihlah hari-hari Bidh yang tiga tersebut, atau hari Senin dan Kamis, kalau tidak maka terserah karena perkaranya sangat mudah.
Adapun pengkhususan puasa pada hari-hari tertentu di bulan Rajab, maka kami tidak mengetahui dasarnya dalam syari’at ini. Wabillahit Taufiq.
Al-Lajnah Ad-Da-imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’
Ketua               : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
Wakil Ketua     : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi
Anggota           : ‘Abdullah bin Ghudayyan
Anggota           : ‘Abdullah bin Qu’ud
Sumber: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da-imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’[III/176]
Pertanyaan pertama dari fatwa no. 2608

Penjelasan Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah

Beliau ditanya:
Sebagian orang mengkhususkan bulan Rajab dengan melakukan berbagai bentuk ibadah tertentu seperti shalat Raghaib[1] dan menghidupkan malam ke-27. Apakah yang demikian itu ada dasarnya di dalam syari’at ini? Jazakumullahu khairan.
Beliau menjawab:
Pengkhususan bulan Rajab dengan ibadah shalat raghaib atau peringatan malam 27 dengan keyakinan bahwa malam tersebut adalah malam Isra’ Mi’raj, maka ini semua adalah bid’ah dan tidak boleh untuk dilaksanakan, amaliyah seperti itu tidak ada dasaranya dalam syari’at ini.
Para ulama juga telah memperingatkan tentang permasalahan ini, dan kami pun juga sudah pernah menulis tentangnya lebih dari sekali, dan kami telah jelaskan kepada orang-orang bahwa shalat raghaib adalah bid’ah, yaitu sebuah ritual yang dilakukan oleh sebagian orang di malam Jum’at pertama bulan Rajab.
Demikian pula peringatan malam 27 dengan keyakinan bahwa itu adalah malam Isra’ Mi’raj, itu semua adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at.
Malam Isra’Mi’raj tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya. Kalaupun diketahui, tetap tidak diperbolehkan untuk mengadakan peringatan malam tersebut, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memperingatinya, demikian pula para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun dan para shahabat yang lain radhiyallahu ‘anhum. Kalau seandainya peringatan seperti itu termasuk sunnah, maka niscaya mereka akan mendahului kita untuk memperingatinya.
Segala kebaikan itu ada pada sikap mengikuti mereka dan berjalan di atas manhaj mereka sebagaimana Allah ‘azza wajalla firmankan:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]
Dan telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang pada dasaranya bukan berasal dari agama tersebut, maka dia tertolak.”[HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad]
Dan beliau ‘alaihish shalatu wassalam juga bersabda:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (tuntunan syari’at) kami, maka amalannya tersebut tertolak.” [HR. Muslim, Ahmad]
Dan makna ‘maka amalannya tersebut tertolak‘ adalah ‘tertolak kepada pelakunya‘.
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda dalam khuthbahnya:
أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد – صلى الله عليه وسلم – ، وشر الأمور محدثاتها ، وكل بدعة ضلالة
“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, dan setiap bid’ah adalah sesat.” [HR. Muslim, An-Nasa’i]
Maka yang wajib atas segenap kaum muslimin adalah untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan istiqamah di atasnya, saling mewasiati untuk itu dan waspada dari segala bentuk kebid’ahan sebagai realisasi dari pengamalan firman Allah ‘azza wajalla:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”[Al-Maidah: 2]
Dan firman-Nya subhanahu wata’ala:
وَالْعَصْرِ سورة العصر الآية إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ سورة العصر الآية إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr: 1-3]
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
الدين النصيحة ، قيل : لمن يا رسول الله ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم.
“Agama itu adalah nasehat. Ditanyakan kepada beliau: untuk siapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: untuk Allah, untuk kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan segenap umat Islam.” [HR. Muslim]
Adapun umrah, maka tidaklah mengapa untuk ditunaikan pada bulan Rajab, karena telah shahih di dalam Ash-Shahihain dari shahabat Ibnu ‘Umarradhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunaikan umrah pada bulan Rajab. Dahulu para salaf juga menunaikan umrah pada bulan Rajab, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah di dalam kitabnya ‘Al-Latha-if‘ dari shahabat ‘Umar, anaknya (Ibnu ‘Umar), dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Dan dinukilkan dari Ibnu Sirin bahwa para salaf dahulu juga melakukan yang demikian. Wallahu Waliyyut Taufiq.
Sumber: Majmu’ Fatawa Ibn Baz [XI/476-477]

Penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaiminrahimahullah

الحمد لله حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة أرجو بها النجاة يوم نلاقيه وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أرسله بالهدى ودين الحق فبلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح الأمة فصلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.
Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah berfirman:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” [Al-Baqarah: 189].
Dan Allah ‘azza wajalla juga berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” [At-Taubah: 36]
Sesungguhnya bulan-bulan Hilaliyah ini merupakan bulan-bulan yang Allah tetapkan untuk hamba-hamba-Nya sebagai waktu-waktu bagi manusia dalam bermu’amalah dan beribadah.
قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” [Al-Baqarah: 189].
Di antara bulan-bulan tersebut adalah empat bulan yang diharamkan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram yang merupakan tiga bulan yang berurutan, dan Rajab secara sendiri yang terletak antara bulan Jumadal Tsaniyah dan Sya’ban.
Dan sebentar lagi, bulan ini (yakni Rajab, pent) akan tiba mendatangi kalian. Bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan-bulan haram yang memiliki keutamaan. Sudah semestinya pada bulan tersebut untuk menjauhi berbagai bentuk maksiat sebagaimana pada tiga bulan yang lain, namun tidak pernah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengkhususkan pada bulan itu dengan menambah ibadah shalat maupun puasa. Semua hadits yang menyebutkan tentang permasalahan ini adalah hadits-hadits yang lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah.
Sebagian orang beribadah kepada Allah ‘azza wajalla dengan berpuasa pada tiga bulan: Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan, namun tidak dibenarkan untuk mengkhususkan puasa pada bulan Rajab.
Adapun Sya’ban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memperbanyak puasa pada bulan tersebut sampai pernah beliau berpuasa sebulan penuh ataupun mayoritasnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha.[2]
Wahai saudara-saudaraku,
Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah suatu perkara yang diada-adakan dalam agama ini. Sesungguhnya seluruh amalan yang dengannya engkau beribadah kepada Allah, namun amalan tersebut tidak pernah disyari’atkan di dalam Kitabullah maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya itu adalah kebid’ahan yang tidaklah menambah bagi engkau kecuali semakin jauh dari Allah ‘azza wajallaKarena setiap orang yang berbuat bid’ah, berarti kebid’ahannya itu akan memberikan makna bahwa agama ini belum sempurna semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal Allah ta’ala telah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِيناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”[Al-Maidah: 3]
Allah berfirman yang demikian itu dalam sebuah ayat yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Jum’at, di hari ‘Arafah ketika haji wada’.
Sehingga agama ini telah sempurna, tidak butuh kepada penyempurnaan, dan tidak pula butuh kepada sesuatu yang diada-adakan. Setiap manusia yang beribadah kepada Allah dengan menjalankan suatu amalan yang tidak disyari’atkan di dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, maka amalannya tersebut tertolak dan dia tersesat disebabkan amalannya itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam rangka memberikan peringatan kepada umatnya:
إياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, karena sesungguhnya setiap perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (tuntunan syari’at) kami, maka amalannya tersebut tertolak.” [HR. Muslim]
Ambillah prinsip ini wahai saudaraku muslim, ambillah petunjuk ini, bahwa setiap amalan yang dengannya seseorang beribadah (kepada Allah), baik itu amalan hati seperti aqidah/keyakinan, atau amalan lisan seperti dzikir-dzikir bid’ah, atau amalan anggota badan seperti amaliyah bid’ah, jika tidak memiliki saksi (berupa dalil/hujjah, pent) dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidaklah didapatkan kecuali kerugian di dunia dan akhirat.
أسأل الله تعالى أن يبصرني وإياكم بدينه وأن يرزقنا علماً نافعاً وعملاً صالحاً يُقربنا إليه وأعوذ به من الجهل والبدع
Saya memohon kepada Allah ta’ala agar Dia memberikan bashirah (ilmu pengetahuan) kepadaku dan kepada kalian semua tentang agama-Nya, dan agar Dia memberikan rizki kepada kita semua berupa ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih yang bisa mendekatkan diri kita kepada-Nya. Dan saya memohon perlindungan kepada-Nya dari kebodohan dan kebid’ahan.
اللهم إنا نسألك يقيناً لا شك معه وإيماناً لا كفر معه واتباع لا ابتداع معه وإخلاصاً لا شرك معه يا ذا الجلال والإكرام يا حي يا قيوم
Ya Allah, kami memohon kepada Engkau keyakinan yang tidak ada keraguan bersamanya, keimanan yang tidak ada unsur kekufuran bersamanya, sikap ittiba’ (mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) yang tidak ada sikap ibtida’ (mengada-adakan perkara baru dalam agama) bersamanya, ikhlas yang tidak ada kesyirikan bersamanya, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang maha hidup lagi terus-menerus dalam mengurus makhluk-Nya.
Wahai saudara-saudara kaum muslimin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang agung:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab: 56]
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”[Al-Baqarah: 285]
اللهم صلِّ وسلم على عبدك ورسولك اللهم صلِّ وسلم على عبدك ورسولك محمد اللهم صلِّ وسلم على عبدك ورسولك محمد اللهم ارزقنا محبته واتباعه ظاهراً وباطنا اللهم احشرنا في زمرته اللهم اسقنا من حوضه اللهم أدخلنا في شفاعته اللهم اجمعنا به وبمن أنعمت عليهم في جنات النعيم إنك على كل شيء قدير
Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul Engkau, Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul Engkau Muhammad, Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul Engkau Muhammad.
Ya Allah, limpahkanlah rizki kepada kami untuk bisa mencintai beliau, mengikuti sunnah beliau, zhahir maupun batin.
Ya Allah, kumpulkanlah kami dalam barisan beliau, ya Allah, berilah kami kesempatan untuk minum dari telaga beliau (nanti pada hari Qiyamat, pent), ya Allah, masukkanlah kami ke dalam jajaran orang-orang yang mendapatkan syafa’at beliau.
Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama beliau dan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat di surga yang penuh kenikmatan.
Sesungguhnya Engkau maha mampu atas segala sesuatu.
اللهم ارض عن خلفائه الراشدين وعن الصحابة أجمعين وعن التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين اللهم ارض عنا كما رضيت عنهم اللهم أصلح أحوالنا كما أصلحت أحوالهم
Ya Allah, ridhailah para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, para shahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik sampai datangnya hari pembalasan. Ya Allah, ridhailah kami sebagaimana Engkau telah meridhai mereka.
Ya Allah, perbaikilah keadaan kami sebagaimana Engkau telah memperbaiki keadaan mereka.
اللهم اجمع قلوبنا على الحق يا رب العالمين اللهم آلف بين قلوبنا اللهم اهدنا سبل السلام اللهم ألق بيننا المودة والمحبة يا رب العالمين اللهم أبعد عنا اختلاف القلوب والعداوة والبغضاء إنك على كل شيء قدير.
Ya Allah, kumpulkanlah hati-hati kami di atas al-haq, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, satukanlah hati hati kami, ya Allah, berilah kami petunjuk kepada jalan keselamatan, ya Allah, tanamkan kecintaan dan kasih saying di antara kami, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah dari kami segala bentuk perselisihan hati, permusuhan, dan kebencian, sesungguhnya Engkau maha mampu atas segala sesuatu.
Wahai hamba-hamba Allah,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [An-Nahl: 90]
Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?p=718463

Penjelasan Fadhilatul ‘Allamah Dr. Shalih bin Sa’d As Suhaimi hafizhahullah

Dan termasuk kebid’ahan yang tersebar pada masa ini adalah apa yang diyakini oleh orang-orang (kaum muslimin, pent) berupa pengkhususan bulan Rajab untuk melakukan ibadah tertentu seperti puasa atau menentukan hari tertentu (seperti malam 27 Rajab, pent) untuk menyelenggarakan ritual perayaan dan ibadah-ibadah tertentu dengan anggapan bahwa pada bulan tersebut adalah malam terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Penentuan semacam ini tidak ada dalilnya dari Kitabullah ta’alamaupun dari sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tidak ragu lagi bahwasanya peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah benar adanya, dan beriman terhadapnya apa hukumnya?! Wajib, dan seorang muslim tidak ragu dalam perkara ini.
Bahkan beriman dengan (Isra’ Mi’raj) merupakan perkara yang sudah diwajibkan oleh Allah tabaraka wata’ala di dalam kitab-Nya:
سُبْحَانَ الَذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ المَسْجِدِ الحَرَامِ إلَى المَسْجِدِ الأَقْصَا الَذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” [Al Isra’: 1]
Dan beliau telah diisra’kan dengan ruh dan jasadnya, tidak dengan ruhnya saja, dan bukan pula kejadian dalam mimpi saja, bahkan beliau diisra’kan dengan ruh dan jasadnya shallallahu ‘alaihi wasallam -hingga beliau sampai di sidratul muntaha- shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihi.
Ini merupakan kedudukan yang tidak dicapai oleh seorang nabi pun sebelumnya, dan ini merupakan kekhususan yang Allah berikan kepadanyashalawatullahi wasalamuhu ‘alaihi.
Dan walaupun Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa yang tsabit (tetap dalam syari’at ini) dan beriman dengannya adalah wajib dan telah diwajibkan pula ketika itu shalat lima waktu, akan tetapi kita tidak memiliki dalil yang pasti bahwa itu terjadi di bulan Rajab.
Kemudian di sana ada perkara lainnya, yaitu bahwasanya walaupun kita mendapatkan dalil bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi pada bulan Rajab, apakah kita disyaria’tkan untuk melakukan ritual ibadah tertentu pada bulan tersebut?
Jawabannya adalah: tidak, karena segala bentuk ibadah itu sifatnya adalahtauqifiyyah (tetap dan paten sesuai dengan tuntunan Allah ta’ala dan Rasul-Nyashallallahu ‘alaihi wasallam) yang harus diketahui (dalil dan landasannya, pent) dari syari’at ini. Dan setelah mengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hidup selama sekitar 13 tahun, dan beliau tidak pernah mengadakan acara-acara tertentu untuk memperingati peristiwa tersebut.
Apakah kita yang lebih bersemangat mengikuti al-haq ataukah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam? Tentunya beliau, ini tentunya tidak ragu lagi.
Sesungguhnya perbuatan mengada-adakan ibadah tertentu untuk memperingati Isra’ dan Mi’raj pada tanggal 12 atau 27 Rajab itu terjadi pada abad ke-4 Hijriyyah, setelah banyak bermunculannya sikap taqlid kepada orang-orang Yahudi dan Nashara dalam memperingati hari-hari ‘ied (hari raya-hari raya), seperti peringatan-peringatan hari-hari kelahiran atau yang lainnya dari bentuk peringatan-peringatan (hari raya) jahiliyyah yang Allah tidak menurunkan satu hujjahpun, maka itu semua adalah peringatan-peringatan jahiliyyah dan bid’ah yang diada-adakan.
Hari-hari ‘ied dalam Islam, ada berapa hari ‘ied kita? Aku katakan: hari ‘ied Islam ada tiga, apa saja itu? ‘Iedul Fithri, ‘Iedul Adh-ha, dan ‘Iedul Usbu’ yang itu merupakan hari Jum’at. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam telah menamakan itu semua dengan ‘ied dan tidak ada ‘ied yang keempat dari hari-hari ‘ied tersebut. Tidak ada ‘ied (hari ulang tahun) kelahiran, ataupun i’ed (hari raya) nasional, ‘ied perayaan Isra’ dan Mi’raj, ………..
Itu semua adalah ‘ied (perayaan/hari raya) jahiliyyah, semuanya adalah ‘ied jahiliyyah, tidak diketahu (dikenal) kecuali setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali setelah empat abad kemudian.
Kita mengajukan pertanyaan di sini:
Siapakah yang berada di atas al-haq?
Mereka generasi pertama yang hidup pada masa-masa generasi terbaik dan diutamakan? Ataukah Al-Fathimiyyun Al-’Ubaidiyyun yang menisbahkan kepada Fathimah radhiyyallahu ‘anha secara palsu dan dusta setelah empat abad (dari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pent)?! Siapa yang berada di atas al-haq?! Siapa yang lebih benar jalannya?!
Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamlebih daripada kecintaan mereka kepada beliau. Mereka (para shahabat tersebut) datang membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ruh dan jiwa-jiwa mereka, mereka menghadapi panah-panah dan tombak-tombak dengan dada-dada mereka yang suci dalam rangka menebus dirinya untuk (membela) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Walaupun demikian, mereka tidak pernah mengadakan peringatan-peringatan semacam ini. Apakah kemudian kita mengatakan bahwa mereka tidak mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Maha sempurna Allah, seorang muslim tidak akan mengatakan seprti itu, bahkan mereka (para shahabat) adalah orang-orang yang paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Beriman terhadap Isra’ dan Mi’raj adalah wajib, akan tetapi anggapan bahwa itu terjadi pada malam 27 Rajab adalah tidak benar bahkan itu merupakan kedustaan.
Riwayat-riwayat dalam sejarah menyebutkan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada bulan Rajab, ada yang menyebutkan pada bulan Sya’ban, ada yang menyebutkan pula pada bulan Ramadhan, ada yang menyebutkan pada bulan Syawwal, dan ada pula yang menyebutkan pada bulan Dzulhijjah, Wallahu A’lam.
Tidak terlalu penting bagi kita (mengetahui) tarikh dalam masalah ini, dan yang (lebih) penting bagi kita adalah hakikat keimanan terhadap benarnya peristiwa Isra’ dan Mi’raj tersebut.
Demikian pula mengkhususkan bulan Rajab dengan puasa tertentu adalah tidak benar, tidak benar, tidak ada pada bulan Rajab itu puasa tertentu yang dikhususkan[3], dan barangsiapa yang mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ragu lagi bahwa mereka telah melakukan salah satu bentuk kebid’ahan di antara kebid’ahan-kebid’ahan yang diada-adakan manusia. Tidak ada dalil shahih yang tetap dalam pengkhususan bulan Rajab dengan puasa tertentu, shalat tertentu, maupun ritual ibadah khusus, akan tetapi (bulan Rajab) adalah sebagaimana bulan-bulan yang lainnya.
Sumber: http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=745
Diterjemahkan secara ringkas dan diberi catatan kaki oleh Abu ‘Abdillah Kediri.

[1] Shalat Raghaib atau biasa juga disebut dengan Shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan pada malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan ‘Isya. Pada siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Raghaib ini (yakni hari Kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah.

Adapun tata cara dan keutamannya adalah sebagaimana yang disebutkan dalamhadits maudhu’ (palsu) yang berbunyi:
وما من أحد يصوم يوم الخميس أول خميس في رجب، ثم يصلى فيما بين العشاء والعتمة، يعنى ليلة الجمعة، ثنتى عشرة ركعة، يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب مرة، وإنا أنزلناه في ليلة القدر ثلاث مرات، وقل هو الله أحد اثنتى عشرة مرة، يفصل بين كل ركعتين بتسليمة، فإذا فرغ من صلاته صلى على سبعين مرة، ثم يقول: اللهم صل على محمد النبي الامي وعلى آله، ثم يسجد فيقول في سجوده:سبوح قدوس رب الملائكة والروح سبعين مرة، ثم يرفع رأسه فيقول: رب اغفر لي وارحم وتجاوز عما تعلم إنك أنت العزيز الاعظم سبعين مرة، ثم يسجد الثانية فيقول مثل ما قال في السجدة الاولى، ثم يسأل الله تعالى حاجته، فإنها تقضى. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: والذى نفسي بيده ما من عبد ولا أمة صلى هذه الصلاة إلا غفر الله تعالى له جميع ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر وعدد ورق الاشجار، وشفع يوم القيامة في سبعمائة من أهل بيته، فإذا كان في أول ليلة في قبره جاءه بواب هذه الصلاة، فيجيبه بوجه طلق ولسان ذلق، فيقول له: حبيبي أبشر فقد نجوت من كل شدة، فيقول: من أنت فوالله ما رأيت وجها أحسن من وجهك، ولا سمعت كلاما أحلى من كلامك، ولا شممت رائحة أطيب من رائحتك، فيقول له: يا حبيبي أنا ثواب الصلاة التى صليتها في ليلة كذا في شهر كذا، جئت الليلة لاقضى حقك، وأونس وحدتك، وأرفع عنك وحشتك، فإذا نفخ في الصور أظللت في عرصة القيامة على رأسك، وأبشر فلن تعدم الخير من مولاك أبدا
“Dan tidaklah ada seorang yang berpuasa di awal Kamis bulan Rajab, kemudian shalat di,antara Maghrib dan ‘Atamah (Isya)- yaitu malam Jum’at- dua belas rakaat, membaca pada setiap rakaatnya surat Al-Fatihah sekali dan surat Al-Qadr tiga kali serta surat Al-Ikhlas dua belas kali, setiap dua rakaat dengan satu kali salam, jika telah selesai dari shalat tersebut maka ia bershalawat kepadaku tujuh puluh kali, kemudian mengatakan ‘Allahhumma Shalli ‘Ala Muhammadin An-Nabi Al-Ummiyyi Wa ‘Ala Alihi’, kemudian sujud lalu mengatakan dalam sujudnya: ‘Subuhun qudusun Rabbul Malaikati War Ruh’ tujuh puluh kali, lalu mengangkat kepalanya dan mengucapkan: ‘Rabbighfirli warham wa tajaawaz ‘amma ta’lam Inaka  anta Al-Aziz Al-A’zham‘ tujuh puluh kali, kemudian sujud kedua dan mengucapkan seperti ucapan pada sujud yang pertama, lalu memohon kepada Allah hajatnya, kecuali pasti hajatnya tadi akan dikabulkan.
Rasulullah bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang hamba laki-laki maupun perempuan yang melakukan shalat ini kecuali akan Allah ampuni seluruh dosanya walaupun seperti buih di lautan dan seperti sejumlah daun di pepohonan, serta bisa memberi syafaat di hari kiamat kepada tujuh ratus keluarganya. Ketika berada di malam pertama di kuburnya, akan datang kepadanya pahala shalat ini. Ia menemuinya dengan wajah yang berseri dan lisan yang indah, lalu menyatakan: ‘Kekasihku, berbahagialah! Kamu telah selamat dari kesulitan. Lalu (orang yang melakukan shalat ini) berkata: ‘Siapa kamu? Sungguh demi Allah, aku belum pernah melihat wajah seindah wajahmu dan tidak pernah mendegar perkataan semanis perkataanmu serta tidak pernah mencium bau wewangian sewangi bau wangi kamu’. Lalu ia berkata: ‘Wahai kekasihku! Aku adalah pahala shalat yang telah kamu lakukan di malam itu pada bulan itu. Malam ini aku datang untuk menunaikan hakmu, menemani kesendirianmu dan menghilangkan darimu kegundahgulanaanmu. Ketika ditiup sangkakala, maka aku akan menaungimu di tanah lapang kiamat. Maka berbahagialah karena kamu tidak akan kehilangan kebaikan dari maula-Mu (Allah) selama-lamanya.”
Haidts ini adalah hadits maudhu’ (palsu), disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitabnya Al-Maudhu’at (II/124)
Dari hadits tersebut, dapat diketahui secara ringkas tata cara Shalat Raghaib, yaitu:
1.        Dikerjakan antara Maghrib dan ‘Isya’, jumlah rakaatnya dua belas, setiap dua rakaat satu salam.
2.        Pada setiap rakaat membaca surat Al-Fatihah sekali, surat Al-Qadr tiga kali, dan surat Al-Ikhlash dua belas kali.
3.        Setelah shalat mengucapkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tujuh puluh kali dengan lafazh:
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ
4.        Kemudian sujud dengan membaca tujuh puluh kali:
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْح
5.        Kemudian bangun dan duduk dengan mengucapkan tujuh puluh kali:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ اْلأَعْظَمُ
6.        Lalu sujud lagi dan mengucapkan ucapan yang sama dengan sujud yang pertama
7.        Kemudian berdo’a kepada Allah sesuai dengan hajat dan kebutuhannya.
[2] HR. Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
[3] Sebagaimana bulan yang lain, seperti tanggal 9 dan 10 Muharram, 6 hari di bulan Syawwal, dan 9 Dzulhijjah.

Sumber : http://www.assalafy.org/mahad/?p=514#more-514
Sumber : http://belajardanberamal-naser.blogspot.com/2011/06/puasa-bulan-rajab.html

Cara Mandi Wajib Yang Benar

Cara Mandi Wajib Yang Benar - Setiap dari kita akan mengalami mandi wajib tetapi belum tentu setiap muslim tahu cara mandi wajib atau mandi junub yang benar. Hal ini riskan sekali sebab kalau kita mendirikan shalat dalam keadaan hadast besar kita belum terangkat /hilang tentunya shalat kita tidak sah hanya dengan hilangnya hadas kecil saja dengan wudlu dan bagaimana kita nanti mempertanggungjawabkan shalat kita dikarenakan ketidak tahuan kita cara menghilangkan hadas besar dengan mandi wajib ? Kemudian kalau kita bertanya kepada diri kita sendiri : sudah pantaskah kita menyandang predikat seorang muslim kalau urusan mandi wajib saja kita tidak tahu yang sebenarnya ? Inilah rahasianya kenapa pelajaran mandi wajib di madrasah-madrasah dan pondok pesantren lebih dini diberikan kepada para murid untuk mengantisipasi gugurnya beberapa amal/ibadah dikarenakan hadast besar yang belum terangkat dengan sempurna disebabkan kekurangpahaman mengenai syarat dan rukun mandi wajib ini. Karena pentingnya hal ini kami menulis cara mandi wajib yang benar beserta rukun-rukunnya untuk kaum muslimin sebagai salah satu penggugur kewajiban dari mencari ilmu.

Rukun Mandi Wajib, Sunnah dan Makruhnya

 Bagaimana Cara Mandi Wajib Yang Benar ?
Rukun-rukun mandi wajib ada dua, yaitu :
1. Niat
Yaitu dengan hati pada saat pertama kali membasuh anggota badan.
Macam-macam niat  mandi antara lain :
a. saya niat mandi untuk menghilangkan janabat
b. saya niat mandi untuk  menghilangkan hadats besar
c. saya niat mandi wajib
d. saya niat bersuci untuk shalat
2. Meratakan air ke seluruh anggota badan (kulit dan bulu yang tumbuh padanya).
Dengan memperhatikan tempat-tempat yang sulit dilalui air, seperti ketiak, lipatan perut, telinga dan lain-lain.
Hal-hal yang disunnahkan ketika mandi wajib :
Segala yang disunnahkan ketika wudlu’, disunnahkan pula ketika mandi seperti membaca basmalah, bersiwak, menghadap kiblat, membasuh kedua telapak tangan, berkumur, istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), menggosok badan, mendahulukan yang kanan, muwalah (berkesinambungan) dan lain lain.
Selain itu disunnahkan pula kencing sebelum mandi, berdiri, menghilangkan kotoran tubuh, berwudlu’, menyela-nyelai rambut, tiga kali dalam basuhan, mandi dengan menutup aurat (jika mandi sendirian, namun jika dihadapan orang lain hukumnya wajib) dan lain-lain.
Hal-hal yang dimakruhkan ketika mandi wajib :
1. Isrof dalam menggunakan air (lebih dari kebutuhan).
2. Mandi di air yang menggenang.
3. Basuhan lebih dari tiga kali.
4. Meninggalkan kesunahan seperti berkumur, istinsyaq (memasukkan air ke lubang hidung), dll.
Tata cara mandi dengan sempurna :
1. Menghilangkan kotoran terlebih dahulu, seperti mani, kencing dan lain-lain.
2. Kemudian menghadap qiblat, membaca basmalah , bersiwak, membasuh kedua telapak tangan, berkumur dan istinsyaq, masing masing tiga kali dengan niat mengerjakan sunnah-sunnah mandi.
3. Membasuh dua kemaluan dengan niat menghilangkan janabat pada keduanya.
4. Berwudlu’ sebagaimana biasanya.
5. Mengguyur kepala sambil niat seperti niat-niat di atas.
6. Menyiramkan air pada bagian depan dan belakang tubuh sebelah kanan, kemudian bagian depan dan belakang tubuh sebelah kiri, sambil memperhatikan anggota badan yang sulit dilalui air.
Masalah wudhu’ bagi orang yang mandi janabah ada dua pendapat.
Pertama : dicukupkan dengan mengangkat hadats besar (mandi) karena dengan sendirinya hadats kecil terangkat pula dengan syarat di waktu melaksanakan mandi tidak melakukan perkara yang membatalkan wudhu’ seperti menyentuh kemaluan dengan telapak tangan. Dan ini adalah pendapat yang mu’tamad.
Kedua : tidak cukup dengan mandi (diharuskan wudhu’) karena hadats kecil terangkat dengan wudhu’ dan hadats besar terangkat dengan mandi, permasalahan berbeda dan hukumnya tentunya berbeda.
Demikianlah penjelasan mandi wajib yang kami rasa cukup memadai untuk dipelajari dan dilakukan. Semoga bermanfaat

[ sumber ]

KISAH NERAKA JAHANAM

Dikisahkan dalam sebuah hadis bahawa sesungguhnya neraka Jahannam itu adalah hitam gelap, tidak ada cahaya dan tidak pula ia menyala. Dan ianya memiliki 7 buah pintu dan pada setiap pintu itu terdapat 70,000 gunung, pada setiap gunung itu terdapat 70,000 lereng dari api dan pada setiap lereng itu terdapat 70,000 belahan tanah yang terdiri dari api, pada setiap belahannya pula terdapat 70,000 lembah dari api.   


Dikisahkan dalam hadis tersebut bahawa pada setiap lembah itu terdapat 70,000 gudang dari api, dan pada setiap gudang itu pula terdapat 70,000 kamar dari api, pada setiap kamar itu pula terdapat 70,000 ular dan 70,000 kala, dan dikisahkan dalam hadis tersebut bahawa setiap kala itu mempunyai 70,000 ekor dan setiap ekor pula memiliki 70,000 ruas. Pada setiap ruas kala tersebut ianya mempunyai 70,000 qullah bisa.
Dalam hadis yang sama menerangkan bahawa pada hari kiamat nanti akan dibuka penutup neraka Jahannam, maka sebaik sahaja pintu neraka Jahannam itu terbuka, akan keluarlah asap datang mengepung mereka di sebelah kiri, lalu datang pula sebuah kumpulan asap mengepung mereka disebelah hadapan muka mereka, serta datang kumpulan asap mengepung di atas kepala dan di belakang mereka. Dan mereka (Jin dan Mausia) apabila terpandang akan asap tersebut maka bergetarlah dan mereka berlutut dan memanggil-manggil, “Ya Tuhan kami, selamatkanlah.”
Diriwayatkan bahawa sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah bersabda : “Akan didatangkan pada hari kiamat itu neraka Jahannam, dan neraka Jahannam itu mempunyai 70,000 kendali, dan pada setiap kendali itu ditarik oleh 70,000 malaikat, dan berkenaan dengan malaikat penjaga neraka itu besarnya ada diterangkan oleh Allah s.w.t. dalam surah At-Tahrim ayat 6 yang bermaksud : “Sedang penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras.” Setiap malaikat apa yang ada di antara pundaknya adalah jarak perjalanan setahun, dan setiap satu dari mereka itu mempunyai kekuatan yang mana kalau dia memukul gunung dengan pemukul yang ada padanya, maka nescaya akan hancur lebur gunung tersebut. Dan dengan sekali pukulan sahaja ia akan membenamkan 70,000 ke dalam neraka Jahannam.

[ sumber ]
4.5